Pengamatan Gejala Alam - wasis

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada di sekitar kita secara sistematis. Para ilmuwan atau saintis mempelajari apa yang terjadi di sekitar kita dengan melakukan serangkaian penelitian dengan sangat teliti dan hati-hati. Hasil-hasil penelitiannya dapat kita rasakan dan manfaatkan hingga saat ini. Mereka dapat menjelaskan apa dan mengapa sesuatu dapat terjadi, memperkirakan sesuatu yang terjadi saat ini dan yang akan datang terhadap alam sekitar mereka. Hasil-hasil temuan mereka dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia. Misalnya:komputer, televisi, biji jagung hibrida, pupuk, dan sebagainya.

Pada bagian ini kalian akan melakukan kegiatan seperti seorang saintis bekerja, melaksanakan pengamatan objek untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik.

Kalian tentu bertanya bagaimana cara mereka bekerja. Apakah mereka berpakaian serba putih dan mereka berjam-jam bahkan berhari-hari berada di laboratorium? Tentu saja tidak demikian, mereka sama seperti kalian jika memikirkan atau menemukan sesuatu yang baru, mereka memulai dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

Lakukanlah kegiatan berikut ini untuk memantapkanmu dalam memahami langkah awal penelitian sains.


METODE ILMIAH

Berdasarkan kegiatan yang telah kamu lakukan tentu saja muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan pada diri kamu yang pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui kegiatan yang kamu lakukan tadi. Kegiatan yang baru saja kamu lakukan mirip yang dilakukan oleh ilmuwan yang bekerja secara sistematis. Mereka menggunakan pendekatan yang disebut metoda ilmiah atau keterampilan proses IPA atau sains, yaitu seperangkat keterampilan yang dilakukan untuk suatu penyelidikan ilmiah. Mengapa keterampilan ini penting? Sebab dengan keterampilan ini kita dapat mengetahui bagaimana caranya untuk mengumpulkan fakta dan menghubungkan fakta-fakta untuk membuat suatu penafsiran atau kesimpulan. Keterampilan ini juga merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat yang dapat digunakan bukan saja untuk mempelajari berbagai macam ilmu tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


Pernahkah kamu berpikir bahwa pohon besar tumbuh dari biji yang kecil? Pohon beringin dapat tumbuh mencapai tinggi puluhan meter dengan berat mencapai beberapa ton. Demikian juga dengan pohon jati, angsana, mahoni, kayu hitam, cendana, dan masih banyak yang lain. Massa suatu pohon adalah salah satu ukuran yang digunakan para ilmuwan untuk mengukur jumlah kandungan materi pada pohon atau pada objek sains lainnya. Selain itu masih ada ukuran lain, misalnya panjang, lebar dan luas. Ukuran-ukuran tersebut dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Ada sifat-sifat objek IPA yang tidak dapat dinyatakan dengan ukuran, dan hanya bisa diterangkan dengan menyebutkan bentuk, warna ataupun aromanya saja. Misalnya bunga mawar harum baunya, mangga masak itu manis rasanya.


Pikirkanlah jika sebatang kayu diletakkan di tempat pembakaran (Gambar 5.1). Setelah beberapa jam tidak ada yang tersisa kecuali sedikit abu. Apa yang terjadi dengan kayu tersebut? Kemana panjang, diameter, bentuk, bau dan massa kayu itu?


Mengamati sifat-sifat organ tubuh tumbuhan

Organ tubuh tumbuhan terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Tiap bagian tersebut memiliki berat, panjang, bentuk, warna dan bau tertentu. Pikirkanlah sifat-sifat apa yang dapat kamu amati tanpa melihat benda tersebut?

Apa yang kamu perlukan? - Sebuah pot berisi tanaman tomat, terung, atau cabe (pilih salah satu) - Kain hitam penutup mata - Mistar - Neraca Catatan: bahan bisa diganti sesuai kondisi, asalkan tanaman budidaya dan tidak beracun


Apa yang harus kamu lakukan? 1. Bekerjalah dalam kelompok secara kooperatif.


2. Pilihlah salah satu temanmu untuk mengamati obyek biologi yang ada. Sedangkan teman yang lain mencatat hasilnya.


3. Tutuplah kedua mata temanmu dengan kain hitam.


4. Letakkan pot berisi tanaman di depan temanmu. Cabutlah tanaman dari dalam potnya. Mintalah temanmu mengamati bagian-bagian tanaman tersebut dengan meraba dan mencium baunya saja.


5. Pengamatan kualitatif. Mintalah temanmu tersebut menyebutkan ciri-ciri bagian tubuh tumbuhan yang diamati terlebih dahulu, baru setelah itu mintalah dia menyebutkan nama organ tumbuhan tersebut (akar, batang, daun, bunga, buah atau biji?)


6. Pengumpulan data. Catatlah hasil pengamatan temanmu tersebut dalam tabel seperti berikut ini. Data yang kamu peroleh berupa uraian penjelasan tentang sifat-sifat, bukan berupa angkaangka atau hasil pengukuran. Data yang demikian disebut data kualitatif.


Contoh data
7. Setelah hasilmu terkumpul, bandingkan dengan hasil kelompok lain. Apakah kira-kira sama? Bila berbeda, apa perbedaannya? mengapa demikian?


8. Pengamatan Kuantitatif Untuk selanjutnya lakukanlah pengukuran pada seluruh bagian tumbuhan tersebut dengan alat-alat yang tersedia. Timbang seluruh tanaman setelah tanahnya dibuang. Ambillah beberapa daun, ukurlah panjang & lebarnya. Ukurlah panjang dan diameter batang utama. Timbang massa buah yang ada. catatlah datanya dalam tabel seperti berikut.

Kesimpulan dan penerapan 1. Tulislah kesimpulan tentang sifat-sifat bagian tumbuhan yang kamu amati.

2. Tulislah kesimpulanmu tentang pengukuran yang kamu lakukan terhadap bagian-bagian tumbuhan.


Bagaimana Seorang Ilmuwan Bekerja?

Seorang ilmuwan selalu memiliki rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Rasa ingin tahu itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya. Kadang-kadang penjelasan terhadap pertanyaan mereka diterima oleh ilmuwan lain, tetapi sering juga ditolak.


Perhatikan contoh aktivitas ilmuwan Jan Baptista van Helmont berikut. Selama ratusan tahun ilmuwan mempelajari perubahan-perubahan pada pertumbuhan tanaman. Jan Baptista van Helmont mengajukan masalah: apakah benar bahwa tumbuhan dapat menyerap tanah seperti anggapan orang-orang selama itu? Ia ingin menguji kebenaran pendapat tersebut. Ia merencanakan bagaimana ia harus menguji ide-ide yang muncul tersebut.


Jan Baptista van Helmont menemukan bahwa tumbuhan memperoleh makanan dari dalam tanah dengan menyerapnya melalui akar. Pendapat tersebut mengubah pandangan orang tentang pertumbuhan tanaman yang sudah diyakini selama 300 tahun.


Apakah Seorang Ilmuwan Belajar

Dari Hasil Kerja Orang Lain? Helmont telah menanam pohon willow (Gambar 5.4) yang massanya 2,5 kg di dalam kotak besar yang berisi 100 kg tanah. Selanjutnya ia mengamati dengan cermat pohon dan tanah tersebut selama lima tahun, mencatat semua perubahan yang terjadi. Selama periode tersebut hasil pengukurannya menunjukkan bahwa pohon memiliki massa 85 kg. Selama periode waktu tersebut, massa tanah hanya berkurang 1 kg. Ini merupakan bukti bahwa pertambahan massa pohon tidak seluruhnya berasal dari tanah. Bukti menunjukkan pertambahan besar pohon hanya


sebagian kecil berasal dari tanah. Eksperimen tersebut telah menjawab satu pertanyaan, tetapi menimbulkan pertanyaan lain. Bagaimana proses pertambahan massa tumbuhan? Setelah eksperimen tersebut Helmont memperkirakan bahwa air merupakan kebutuhan utama pertumbuhan tanaman. Sekarang kita mengetahui bahwa hal itu ada benarnya. Tumbuhan memerlukan air untuk meningkatkan massanya, tetapi untuk semua tumbuhan hijau memerlukan sinar matahari.

Bagaimana Ilmuwan Megajukan Pertanyaan ?

Seorang ilmuwan bernama Roy Renkin telah mempelajari bagaimana pohon tumbuhan tumbuh. Renkin adalah seorang ahli biologi yang bekerja di Taman Nasional Yellowstone di Wyoming. Berdasarkan hasil kerja Helmont, Renkin telah belajar bahwa pohon yang diteliti tidak menyerap banyak tanah untuk meningkatkan massa nya. Saat ilmuwan menjawab satu pertanyaan, selalu memunculkan lebih banyak pertanyaan baru. Renkin memiliki dua pertanyaan. Apa yang membuat pepohonan di hutan tumbuh? Bila pepohonan tersebut mati, dapatkah tumbuh kembali?

Di bulan Agustus 1988, hutan di taman Nasional Yellowstone di Amerika terbakar. Angin berhembus dengan kecepatan 112 kilometer per jam. Api membumbung tinggi ke langit sampai 110 meter. Setelah kebakaran padam, bermil-mil luas wilayah hutan rusak terbakar hanya dalam satu minggu. Api telah membakar satu juta hektar wilayah hutan di kepulauan tersebut.


Para ilmuwan beranggapan bahwa kebakaran hutan telah benar-benar merusak akar dan nutrisi pada tanah yang diperlukan untuk pertumbuhan tumbuhan, namun kebakaran hutan di Yellowstone membantu menunjukkan bahwa hal tersebut tidak benar. Setelah 5 tahun berlalu, ia menjumpai bahwa hutan tersebut telah tertutup oleh pohonpohon baru.

Bagaimana Saya Dapat Menjadi Ilmuwan?


Menjadi seorang ilmuwan dimulai dengan rasa ingin tahu. Mereka mengamati lingkungan sekitar dengan cermat dan mengajukan pertanyaan. Bagaimana sebatang pohon dapat tumbuh menjadi tinggi? Bagaimana dapat bertambah besar?. Kamu dapat mengamati segala sesuatu di sekitarmu yang menarik perha-tianmu.


Berpikir seperti seorang ilmuwan berarti mencoba menemukan jawaban dari suatu pertanyaan yang kamu ajukan. Kadang-kadang jawaban atau penjelasannya tidak diterima oleh orang lain.

Perhatikanlah pohon kelapa seperti terlihat pada Gambar 5.7. Pikirkanlah beberapa pertanyaan berkaitan dengan pohon kelapa tersebut. Mintalah temanmu untuk menjawab pertanyaanmu. Adakah pertanyaan yang tidak mampu dijawab? Bagaimana cara agar pertanyaan itu dapat terjawab?

Sekarang lakukanlah kegiatan Lab mini 5.1 dan Kegiatan 5.2 yang dapat memberi pengalaman bagaimana kamu menjadi seorang ilmuwan.



Menyelidiki dari mana asalnya massa seluruh bagian tumbuhan

Dari manakah asalnya massa seluruh bagian tumbuhan yang menyebabkan tumbuhan menjadi besar?

Pikirkanlah sebuah hipotesis untuk pertanyaan tersebut. Hipotesis adalah pernyataan yang merupakan jawaban bagi pertanyaan. Kamu harus menguji pernyataan tersebut dengan eksperimen.

Apa yang kamu perlukan ?


1. 20 biji kacang hijau 2. Neraca 3. air 4. Mangkuk atau pot kertas atau plastik 4 buah 5. Tanah kebun 6. Penggaris 7. Jurnal IPA Apa yang harus kamu lakukan?

1. Isilah pot dengan sejumlah tanah. Timbanglah tanah sehingga massa tanah yang dimasukkan dalam pot tersebut sama. Catatlah massa tanah tersebut dan tanggal dimulainya percobaan dalam jurnal IPAmu.

2. Timbanglah tiap bijikacang hijau untuk mengetahui massanya. Catatlah dalam jurnal IPAmu. Tanamlah 5 biji dalam setiap pot.

3. Letakkan tempat tersebut di tempat yang terkena sinar. Rawat dan siramlah setiap hari dengan volume air yang sama untuk tiap pot.

4. Setelah satu bulan ukurlah tinggi tanaman dengan penggaris dan catat apa yang kamu temukan. Dengan perlahan-lahan angkatlah dan pisahkan tanaman tersebut dari tanah tempat tumbuhnya. Timbanglah massanya, dan catat hasilnya. Selanjutnya timbanglah tanah dalam pot dan catat hasilnya.

5. Bandingkan berat tumbuhan dan tanah sekarang dengan saat eksperimen dimulai satu bulan yang lalu. Contoh data seperti pada tabel.


Kesimpulan dan Penerapan


1. Menggambarkan Kesimpulan. Berapa massa seluruh bagian tumbuhan yang diperoleh tumbuhan selama 1 bulan?


2. Apakah kamu menduga pertambahan massa tersebut berasal dari tanah? Apakah kamu menduga pertambahan massa itu berasal dari air? Jelaskan!


Mengajukan Pertanyaan


Menjadi seorang ilmuwan berarti mengajukan pertanyaan tentang segala sesuatu disekitarmu. Jika kamu membicarakan tentang pohon yang tinggi berasal dari sebutir kecil biji, kamu dapat mengajukan pertanyaan tentang dari manakah asalnya berat tubuh pohon tersebut? Atau saat kamu mengamati munculnya akar dan pucuk dari biji, dapat timbul pertanyaan mengapa dapat keluar akar dan pucuk tersebut? Perhatikan Gambar 5.8, tanaman putri malu disamping. Pertanyaan apa yang dapat muncul di benakmu? Selanjutnya kamu dapat bertanya pada dirimu sendiri bagaimana saya dapat menguji ide-ide untuk menjawab pertanyaan tersebut?


Merancang Penelitian


Di awal suatu kegiatan eksperimen, kamu harus memulainya dengan sebuah hipotesis. Hipotesis ini merupakan suatu ide atau gagasan atau dugaan tentang apa yang akan terjadi jika kamu melakukan pengujian suatu masalah. Dari dugaan sementara ini selanjutnya kamu dapat merencanakan suatu percobaan atau eksperimen dan mulai menge-cambahkan biji-bijimu.


Menggunakan Hasil Penelitian untuk Menjawab Pertanyaan


Menjadi seorang ilmuwan, kamu perlu melakukan pengamatan proses penelitianmu dengan cermat. Kamu juga perlu menganalisis hasil pengamatan dan membuat gambaran tentang kesimpulannya. Setelah kamu melakukan pengukuran selama penelitian, kamu telah memperoleh jawaban bahwa pertambahan massa tumbuhan tidak berasal dari tanah. Dari hasil tersebut kamu dapat melihat apakah hipotesismu benar atau salah.


Seorang ilmuwan selalu membagi hasil penelitian yang diperolehnya. Dalam kegiatan eksperimenmu, kamu saling berbagi tentang data hasil analisismu dengan teman dalam kelompokmu. Kamu juga melakukan pencatatan tentang penjelasan-penjelasan jawaban pada jurnal IPAmu. Kamu dapat membuat tabel data untuk mempermudah memahami suatu informasi dan juga boleh mengulang eksperimen yang telah dilakukan oleh kelompok terdahulu.



SIKAP ILMIAH

Pada kegiatan terdahulu kalian telah mengamati bagaimana ciri-ciri tumbuhan. Dari hasil pengamatan itu bagi yang rasa ingin tahunya tinggi akan melakukan penelitian lanjutan. Gejala seperti ini merupakan salah satu sikap ilmiah.

Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan belajar yang besar


Seorang yang mempunyai sikap ilmiah apabila melihat proses gejala alam akan terangsang untuk ingin tahu lebih lanjut, apa, bagaimana, mengapa peristiwa atau gejala itu. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu mencari informasi melalui berbagai sumber, dan salah satu sumber adalah buku-buku yang berhubungan dengan masalah tersebut. Buku-buku itu cukup banyak jumlahnya dan harus dipelajari dengan tekun.


Jujur


Seorang ilmuwan wajib melaporkan hasil pengamatannya secara objektif. Dalam penelaahan ilmiah ada hal yang memaksa ilmuwan untuk jujur, yakni faktor kontrol. Misalnya, dalam suatu penelitian tentang pengaruh sejenis obat tertentu, dibuat kelompok penderita yang diberi obat tersebut dan kelompok lain yang tidak diberi obat sebagai kelompok kontrol. Dengan faktor kontrol ini, faktor-faktor kebetulan disingkirkan.



Terbuka


Seseorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka, bebas dari prasangka. Ia meyakini bahwa prasangka dan kebencian baik pribadi maupun kelompok adalah sangat kejam. Ilmuwan akan membuat dugaan dan terus berusaha menguji dugaannya untuk mengetahui kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan tentang hidup. Ilmuwan tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum diterima atau ditolak. Jadi ia terbuka akan pendapat orang lain.



Toleran


Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa pendapatnya mungkin saja salah, sedangkan pendapat orang lain mungkin benar. Ia bersedia menerima gagasan orang lain setelah diuji. Dalam usaha menambah ilmu pengetahuan, ia bersedia belajar dari orang lain, memperbandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain. Ia tidak akan memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Ia mempunyai tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauh dari sikap angkuh.



Optimis


Seorang ilmuwan selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan mengatakan bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan, “Berikan saya sesuatu kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan”. Ia selalu optimis. Rasa humor seorang ilmuwan ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan maupun sikap optimis seseorang.
Pemberani


Ilmu Pengetahuan merupakan hasil kerja keras ilmuwan. Ilmuwan sebagai pencari kebenaran akan berani melawan semua ketidakbenaran, penipuan, dan kepura-puraan yang akan menghambat kemajuan.


Keberanian Copernicus, Galileo, dan Socrates telah banyak diketahui orang. Copernicus dan Galileo disisihkan karena tidak mempercayai bahwa bumi adalah pusat Alam Semesta (Geosentris); tetapi menganggap mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar (Heliosentris). Socrates memilih mati meminum racun dari pada menerima hal yang salah.



C. MIKROSKOP

Tanpa bantuan, mata manusia tidak dapat mengamati obyek yang berukuran kurang dari 0,1 mm. Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat benda-benda mikroskopik yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop yang pertama ditemukan manusia disebut mikroskop sederhana yang hanya memiliki satu lensa. Mikroskop yang digunakan sekarang tergolong mikroskop majemuk yang terdiri dari dua lensa. Kemampuan pembesaran mikroskop majemuk lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop sederhana.

Mikroskop cahaya modern yang biasa digunakan saat ini memiliki bagian penting seperti lensa objektif yang letaknya dekat dengan obyek yang akan diamati dan biasanya melekat pada alat yang disebut revolver; alat ini dapat diputar, dan berguna sebagai alat pemindah lensa. Lensa okuler terletak dekat dengan mata pada saat mikroskop digunakan. Lensa obyektif biasanya beberapa buah, dan memiliki pembesaran 5X, 10X, 45X, dan 100X. Lensa okuler hanya 1 buah atau 2 buah, dan mempunyai pembesaran 5X,10X, atau 15X. Kedua lensa pada mikroskop dihubungkan oleh suatu bagian berbentuk tabung, yang disebut tabung mikroskop.

Mikroskop yang memiliki sebuah lensa okuler, disebut mikroskop monokuler. Mikroskop yang memiliki dua lensa okuler, dinamakan mikroskop binokuler. Gambar 5.11 menampilkan perambatan cahaya di dalam mikroskop. Bagian-bagian penting dari mikroskop ditunjukkan oleh Gambar 5.12. Cahaya yang masuk ke dalam mikroskop diarahkan dengan bantuan cermin. Terdapat dua macam cermin, yaitu cermin datar dan cermin cekung. Cermin cekung digunakan manakala intensitas sinar sangat lemah atau bila pemakai mikroskop menggunakan sinar lampu. Selain menggunakan cermin, intensitas sinar yang masuk ke dalam mikroskop, dapat pula diatur dengan menggunakan kondensor dan diafragma, masingmasingnya terletak di bawah meja mikroskop.

Meja mikroskop merupakan bidang datar yang berbentuk persegi empat atau bulatan. Pada bagian inilah objek (benda) diletakkan untuk diamati. Agar objek tidak mudah bergeser, biasanya meja mikroskop dilengkapi dengan bagian tambahan yang disebut klip.

Untuk mengatur jarak objek dengan lensa sehingga diperoleh bayangan yang jelas, lensa objektif dapat dinaikkan menjauhi objek ataupun diturunkan mendekati objek. Untuk menggerakkan lensa objektif ini digunakan bagian mikroskop yang disebut pemutar. Ada dua macam pemutar yaitu pemutar halus dan pemutar kasar. Pemutar halus digunakan untuk menggerakkan lensa objektif secara perlahan-lahan, sedangkan pemutar kasar digunakan untuk mengge-rakkan lensa objektif secara cepat.

Bagian lain mikroskop adalah pegangan atau lengan dan kaki mikroskop. Pegangan yaitu bagian yang dipegang ketika mikroskop diangkat atau dipindahkan, sementara kaki mikroskop ialah bagian mikroskop yang letaknya paling bawah.
Berikut ini ditunjukkan bagian-bagian mikroskop.
Cara merawat dan menggunakan Mikroskop
Mikroskop merupakan peralatan yang berharga yang harus diperlakukan dengan baik. Untuk membawa mikroskop itu pegang tangkainya dengan satu tangan. Letakkan tangan yang satu lagi pada bagian bawah untuk menopangnya seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 5.13. Jangan mengayun atau melambung, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan mikroskop itu. Janganlah mencoba mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya. Akan ada bagian dari mikroskop yang terlepas dan jatuh ke lantai bila kalian memegangnya secara demikian.
Kalian tidak akan dapat mengamati dengan baik dan jelas dengan mikroskop yang kotor. Peralatan harus dibersihkan setiap saat akan digunakan. Gunakan kain yang lembut untuk membersihkan bagian logamnya. Akan tetapi harus hati-hati karena debu merupakan musuh lensa yang terbesar. Lensa yang kotor harus dibersihkan dengan kain yang lembut, kapas pengisap atau kertas lensa yang telah dibasahi dengan air bersabun, alkohol, atau lisol. Berikut adalah langkah-langkah menggunakan mikroskop.

1. Mikroskop selalu dibawa dengan dua tangan; tangan pertama menumpu bagian dasar/kaki mikroskop sedang tangan yang lain memegang bagian pegangan mikroskop. 2. Dalam keadaan tersimpan, lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah dan mikroskop dalam keadaan tegak. 3. Pada saat melihat spesimen, pertama kali gunakan lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah, dengan urutan langkah sebagai berikut. a. Letakkan sediaan pada meja mikroskop tepat pada ujung lensa objektif, dan sambil melihat dari samping dekatkan lensa objektif ke benda perlahanlahan (Gambar 5.14.a). b. Perhatikan bayangan melalui lensa okuler, dan dengan menggunakan pemutar kasar, gerakkan lensa objektif menjauhi atau mendekati objek.(Gambar 5.14.b) c. Atur posisi bayangan agar terlihat di tengah medan pengamatan. (Gambar 5.14.c) d. Bila bayangan belum terlihat, ulangilah langkah a dan b.


4. Jika bayangan belum terlihat jelas, jangan menggunakan lensa objektif yang memiliki perbesaran kuat. 5. Pada saat memindahkan lensa objektif dari perbesaran lemah ke perbesaran kuat, harus selalu melihat ke posisi lensa obyektif , supaya tidak terjadi benturan yang tibatiba antara lensa objektif dengan spesimen sehingga menyebabkan kerusakan atau pecahnya spesimen. 6. Jangan mengarahkan cermin ke arah sinar matahari secara langsung, yang memantul ke mata sehingga dapat mengganggu penglihatan. 7. Bersihkan lensa dengan kertas lensa. Beri sedikit air pada kertas lensa sebelum digunakan untuk membersihkan lensa. Beri alkohol pada kertas lensa jika kotoran yang ada pada lensa agak sulit dihilangkan. 8. Hati-hati menggunakan kaca penutup, karena mudah sekali pecah yang dapat melukai tangan apalagi kalau ditekan. center

Alat dan Bahan Pendukung Ketika Menggunakan Mikroskop

Pengamatan menggunakan mikroskop memerlukan beberapa alat dan bahan pendukung yang harus selalu dalam keadaan bersih sebelum dan sesudah digunakan. Alat dan bahan tersebut adalah:

1. Wadah plastik, diperlukan untuk tempat air bersih yang akan dipergunakan untuk medium preparat 2. Pipet tetes, pendek dan panjang diperlukan untuk mengambil air atau zat-zat kimia yang diperlukan. Mohon diperhatikan penggunaan pipet tetes harus disediakan sendiri-sendiri untuk setiap zat-zat kimia yang dipergunakan untuk membantu pengamatan. 3. Jarum preparat untuk mengambil preparat seperti serbuk sari, spora, dan sebagainya 4. Pinset, ada dua jenis pinset yaitu yang berujung tumpul dan runcing. Pinset dengan ujung tumpul untuk memegang kaca benda pada waktu pemanasan, sedang yang berujung runjing untuk mengambil sayatan yang akan dijadikan preparat. 5. Alat pemotong, ada dua macam yang dapat digunakan yaitu pisau cukur dan silet. Keduanya dapat digunakan untuk mengiris preparat dengan ketebalan yang memadai untuk pengamatan mikroskopik 6. Lampu spiritus, untuk pemanasan bila diperlukan pemanasan 7. Gelas arloji, alat ini digunakan untuk menampung preparat yang akan dipilih sesuai dengan ketebalannya. 8. Alat pembantu untuk memegang bahan yang akan dibuat preparat yaitu empulur ketela pohon yang telah dikeringkan, wortel, gabus, atau kentang. 9. Kaca benda dan penutup, keduanya selalu dipakai berpasangan, kaca benda lebih tebal dan lebih besar mempunyai ukuran standar 25 x 75 mm (1 x 3 inchi); sedangkan gelas penutup tipis lebih kecil, ukurannya bermacam-macam: 22 x 22 mm, 22 x 40 mm atau berbentuk lingkaran dengan diameter 18 mm atau 22 mm. 10. Kertas penghisap, berupa potongan kertas saring atau kertas merang untuk menghisap cairan dari kaca benda dan membersihkan sisa medium yang berada di luar kaca penutup. 11. Lap flanel untuk membersihkan tubuh mikroskop 12. Lap biasa untuk mengeringkan gelas benda dan penutup dapat juga dipergunakan kertas tissue 13. Kertas lensa untuk membersihkan lensa obyektif, okuler, dan cermin mikroskop


Prediksi Bangun Tiga Dimensi dari Gambar Obyek Dua Dimensi

Bentuk sel amat bervariasi, ada yang berbentuk kubus, bola, limas segitiga, balok dan lain-lain. Bentuk- bentuk tersebut disebut pantulan bentuk tiga dimensi. Coba perhatikan bermacam-macam sel ganggang pada Gambar 5.15.

Ketika kamu mengamati gambar sel, maupun melihat preparat sel dengan menggunakan mikroskop, gambaran yang tampak adalah gambar dari salah satu sisinya saja dan ini disebut sudut pandang dua dimensi. Dengan memperhatikan tabel di bawah ini kamu dapat mengetahui bagaimana sebuah objek memberikan kesan pandang baik dua dimensi maupun tiga dimensi.

inilah contoh gambar berbagai macam ganggang.
Untuk melatih keterampilanmu memprediksi bentuk bangun tiga dimensi berdasarkan hasil pengamatan dua dimensi, kerjakan Kegiatan 5.3 berikut ini.


MENGAMATI, MENGGAMBAR, DAN MEMBUAT MODEL

Ambillah dengan menggunakan sebuah gelas plastik air kolam di lingkungan sekitar sekolahmu. Kemudian gunakan sebuah pipet tetes untuk mengambil air kolam tersebut untuk diteteskan di atas kaca objek. Setelah itu tutup dengan menggunakan kaca penutup. Lakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Setelah melakukan pengamatan dengan seksama, pilihlah satu “makhluk” yang paling menarik perhatianmu, kemudian gambar di atas kertas.

Dari gambar yang telah dibuat, cobalah kamu pilihlah bahan- bahan di bawah ini untuk membuat model tiga dimensi. Kamu boleh mencari bahan yang lain apabila menemukan bahan yang tepat untuk membuat model tersebut Usahakan model yang kamu buat mirip dengan aslinya dengan memberikan warna yang sesuai. Apa yang Kamu Perlukan?

1. plastisin. 2. styrofoam 3. jarum pentul warna warni 4. silet/cutter 5. lem 6. spidol/cat pewarna


MEMBUAT PREPARAT

Apa yang kamu perlukan? Mikroskop, kaca benda dan penutup, pipet tetes,beakerglass 100 ml, air, daun Rhoe discolor, tusuk gigi. Apa yang kamu lakukan? A. Pengamatan pada jaringan daun Rhoe discolor : 1. Ambil daun Rhoe discolor kemudian sayat permukaan bawahnya dengan bantuan cutter. 2. Letakkan hasil sayatan tersebut pada kaca benda. 3. Beri satu tetes air dengan menggunakan pipet tetes kemudian tutup dengan kaca penutup. 4. Letakkan preparat tersebut pada meja mikroskop. 5. Lakukan pengamatan dengan perbesaran paling lemah dan fokuskan pada jaringan yang terlihat. 6. Untuk melihat lebih jelas bagian dari jaringan maka gunakanlah perbesaran yang lebih kuat. 7. Gambarlah hasil pengamatan anda.


B. Pengamatan pada jaringan epitel pipi 1. Siapkan 1 tusuk gigi kemudian kerokkan pada lapisan sebelah dalam dari rongga mulut khususnya daerah antara rahang atas dan rahang bawah. 2. Siapkan kaca benda dan teteskan satu tetes air pada kaca benda tersebut. 3. Celupkan tusuk gigi yang telah mengandung epitel pipi ke dalam tetesan air yang terdapat pada kaca benda. 4. Tutup kaca benda dengan kaca penutup kemudian amati di bawah mikroskop. 5. Gunakan perbesaran lemah terlebih dahulu dan fokuskan pada jaringan. 6. Untuk melihat lebih jelas bagian dari jaringan maka gunakanlah perbesaran yang lebih kuat.
7. Gambarlah hasil pengamatan-mu.


Analisis 1. Bagian yang dapat kalian identifikasi adalah .... 2. Berapa banyak sel yang terdapat pada daun Rhoe discolor? 3. Bagaimana cara yang kalian lakukan agar diperoleh sayatan yang sangat tipis? 4. Bagaimana cara yang kalian lakukan agar jaringan epitel pipi dapat kalian amati dengan baik, dan tidak rusak?

Dari kegiatan penyelidikan yang telah kalian lakukan dapat ditarik satu kesimpulan bahwa untuk dapat mengamati jaringan-jaringan tanaman dan hewan secara baik dengan menggunakan mikroskop, organ-organ tertentu dari tumbuhan atau hewan harus cukup tipis sehingga dapat ditembus cahaya. Salah satu cara untuk memperoleh jaringan yang cukup tipis agar dapat ditembus cahaya ialah dengan cara mengirisnya. Untuk bagian-bagian tanaman yang cukup kuat, misalnya ranting kecil, batang, dapat dipotong menjadi irisan-irisan yang cukup tipis dengan menggunakan silet atau pisau cukur. Untuk bagian-bagian tanaman yang lunak, misalnya: daun, akar, dapat dipotong dengan mudah, dengan menggunakan penyokong seperti gabus, parafin atau bahan lain seperti dijepit dengan wortel. Untuk jaringan hewan memotongnya dengan menggunakan mikrotom (alat untuk mengiris dengan tipis) setelah jaringan tersebut diblok dengan parafin (lilin).

Berikut ini dapat kalian pelajari teknik-teknik membuat irisan baik pada tumbuhan maupun pada hewan.



Membuat irisan bebas dengan tangan Apa yang Kamu Perlukan 1. Mikroskop cahaya 7. Bunsen/pembakar spiritus 2. Kaca benda 8. Beaker glass/wadah/kobokan 3. Kaca penutup 9. Penjepit 4. Silet tajam 10. Air 5. Nerium oleander 11. Pipet tetes 6. Parafin


Apa yang Kamu Lakukan

1. Siapkan mikroskop, dalam posisi awal yaitu dengan pembesaran lemah 2. Potonglah daun Nerium oleander atau daun lain dengan ukuran tertentu. 3. Ikatlah potongan-potongan tersebut menjadi satu dan dengan menggunakan penjepit celupkan ke parafin cair (jika sebelumnya masih beku, panaskan terlebih dahulu agar mencair). Setelah parafin membeku, celupkan lagi daun ke dalam parafin cair, dan biarkan membeku dulu sebelum dicelup lagi ke parafin. Dengan jalan ini akan diperoleh daun yang terikat dalam parafin. 4. Irislah parafin yang berisi daun itu dengan silet, hati-hati menggunakan benda tajam seperti silet. Jangan sambil bergurau sebab dapat mengenai organ tubuhmu. 5. Letakkan irisan tersebut pada kaca benda dan teteskan air di atasnya dan tutup dengan kaca penutup, usahakan jangan sampai ada gelembung udara, sebab
gelembung udara akan mengganggu pengamatan. 6. Amati dengan menggunakan mikroskop. Atur mikroskop hingga kamu peroleh gambar yang jelas. 7. Gambar hasil pengamatanmu dan beri keterangan yang jelas.


Membuat irisan bebas dengan tangan dengan posisi membujur Apa yang kamu perlukan 1. Bawang merah 5. Silet tajam 2. Kaca benda 7. Kaca penutup 3. Mikroskop 7. Air 4. Pipet tetes 8. Beaker glass/wadah


Apa yang kamu lakukan 1. Siapkan mikroskop, dalam posisi awal yaitu dengan pembesaran lemah 2. Kupaslah bagian luar bawang merah secara tipis dan potonglah umbi lapis bawang merah secara membujur menjadi dua belahan 3. Angkat salah satu lapis dari yang lain. Perhatikan selapus tipis yang terdapat di antara kedua lapisan, ambil dan letakkan pada kaca benda yang sebelumnya sudah ditetesi dengan setetes air. Tutup dengan kaca penutup, perhatikan pada saat menutup perlahanlahan tahan dengan menggunakan pensil atau sejenisnya agar tidak terdapat gelembung udara 4. Amati dengan menggunakan mikroskop, gambar hasil pengamatan-mu. Jangan lupa beri keterangan/label yang jelas pada hasil pengamatanmu dalam gambar. Membuat

Membuat irisan dengan bantuan penjepit Apa yang kamu perlukan 1. Mikroskop 2. Silet tajam 3. Gabus/wortel/kentang

Apa yang kamu lakukan 1. Ambil wortel/gabus/kentang dan iris dengan posisi membujur. Ambil daun yang akan kalian amati, dan letakkan daun tersebut diantara jepitan hasil irisan wortel/gabus/kentang seperti terlihat pada gambar. 2. Dengan menggunakan silet yang tajam iris setipis mungkin objek tersebut mengarah ke hadapanmu (arah irisan melintang). 3. Letakkan irisan tersebut pada kaca benda yang telah ditetesi air, dan tutup dengan kaca penutup. Amati dengan menggunakan mikroskop. Gambar hasil pengamatanmu.



D. KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja merupakan hal penting yang harus diperhatikan ketika kamu melakukan kegiatan di sekolah, baik di kelas, di laboratorium, maupun di bengkel kerja. Laboratorium merupakan suatu ruangan yang dirancang khusus sebagai tempat kamu melakukan aktivitas pengamatan maupun percobaan dengan aman. Di dalam laboratorium IPA terdapat banyak peralatan dan bahan yang akan kamu gunakan. Alat dan bahan tersebut ada yang membahayakan, bila kamu tidak mempelajari dan menggunakannya secara tepat dan hati-hati.

Melakukan eksperimen sangat menarik, tetapi sekaligus membahayakan bila mengabaikan keselamatan kerja. Kamu harus dapat memastikan bahwa langkahlangkah yang kamu tempuh di dalam eksperimen itu adalah langkah yang tidak memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kamu harus tahu bahaya apa saja yang mungkin terjadi dan bagaimana cara menghindarinya. Dengan begitu, kamu dapat memperoleh keuntungan dari aktivitas yang kamu lakukan dan terhindar dari bahaya yang tidak diinginkan. Perhatikan Gambar 5.16, alat-alat khusus diperlukan untuk memperoleh keselamatan kerja di laboratorium.
Untuk menciptakan keselamatan kerja ketika beraktivitas di laboratorium , kita harus mengikuti aturan keselamatan sebagai berikut: 1. Selalu mohon ijin kepada guru untuk memulai aktivitas. 2. Pelajari prosedur yang akan kamu lakukan. Bila ada yang belum paham, tanyakan kepada gurumu. Pahamilah beberapa simbol keselamatan (Gambar 5.17) yang ditunjukkan pada berbagai tempat di laboratorium, misalnya di botol zat kimia atau bahan lain. 3. Gunakan alat-alat keselamatan untuk melindungi dirimu, misalnya kacamata atau jas laboratorium. 4. Jika kamu memanaskan tabung reaksi, jangan arahkan mulut tabung ke arahmu atau temanmu. 5. Jangan pernah makan atau minum di dalam laboratorium. Jangan sekali-kali menghirup atau mengecap zat kimia.

6. Jika kamu menumpahkan zat kimia, segera bersihkan dengan air. Laporkan segera kepada gurumu. 7. Kenalilah tempat alat-alat yang diperlukan untuk keperluan darurat seperti pemadam kebakaran, kotak P3K, mantel api, semprotan keselamatan, dan alarm kebakaran. 8. Jauhkan semua bahan dari api. 9. Bagi yang berambut panjang, ikatlah rambutmu ke belakang. 9. Jika terjadi kebakaran di dalam kelas atau jika baju terjilat api, padamkanlah dengan mantel kebakaran atau semprotkan dengan penyemprot keselamatan bila ada. Jangan langsung lari meninggalkan api. 10. Laporkan setiap kecelakaan sekecil apapun kepada gurumu.



Siapa yang bertanggungjawab terhadap keselamatan?


Banyak orang berpikir bahwa siswa kurang mendapat perlindungan terhadap bahaya yang mungkin timbul saat mereka bekerja di laboratorium atau ruang kelas, karena kecelakaan itu terjadi di luar dugaan. Namun demikian bahaya yang muncul sebagai resiko kecelakaan dapat dikurangi sampai ke tingkat minimum jika para pengguna laboratorium itu mengetahui tanggungjawabnya masingmasing.

Di dalam laboratorium kamu perlu memahami petunjuk yang diperlukan untuk keselamatan saat melakukan kegiatan. Misalnya, ketika menggunakan alat ukur, bagaimana menggunakan alat itu, dan mengetahui resiko yang mungkin terjadi kalau tindakan yang dilakukan tersebut salah.


Kamu harus belajar tentang keamanan dan bahaya zat kimia yang akan digunakan. Kamu juga harus menyadari bahaya yang mungkin terjadi dari peralatan dan tehnik yang akan kamu lakukan di laboratorium. Karena itu perlu merancang, merangkai, dan mengembangkan prosedur yang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya kecelakaan.

Siswa, guru, dan pimpinan sekolah semua bertanggungjawab mengenai keselamatan kerja di laboratorium dan ruang kelas. Cara terbaik untuk melindungi diri dan teman-teman lainnya adalah dengan menempatkan aspek keamanan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari setiap tugas dan kegiatan.

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan, selain mengatur dan mempersiapkan lingkungan, yang lebih penting adalah mengatur dan mempersiapkan diri sendiri untuk selalu bekerja dengan hati-hati dan tidak ceroboh.



Pencegahan Terjadinya Kecelakaan

kecelakaan bisa berasal dari luar 

maupun dari dalam diri seseorang. Apa yang harus dilakukan pada saat terjadi kecelakaan, tidak dapat dirumuskan dalam kalimat yang sederhana. Guru harus menekankan kepada siswa bahwa mereka harus melaporkan sesegera mungkin semua kecelakaan, untuk mendapatkan perlakukan yang tepat dan memungkinkan guru untuk melakukan penyelidikan.

Di laboratorium perlu dipersiapkan hal-hal berikut: a. Peralatan keamaman. Peralatan keamanan dapat dibagi menjadi dua, yaitu (i) digunakan sebagai pelindung dalam situasi tertentu, dan (ii) digunakan secara rutin sehari-hari untuk mengantisipasi bahaya yang sudah diketahui.

b. Peralatan pelindung pribadi. Peralatan ini sangat beragam bentuk dan fungsinya. Misalnya jas lab, untuk melindungi diri dari berbagai bahan-bahan yang bersifat korosif. Peralatan pribadi berikutnya adalah pelindung mata dan sarung tangan. Pelindung mata (goggle) seperti ditunjukkan pada Gambar 5.18 seharusnya selalu digunakan saat bekerja di laboratorium. Sarung tangan biasanya terbuat dari karet. Bila tidak digunakan simpanlah dalam suatu tempat yang dilengkapi dengan bedak talk.

c. Peralatan darurat. Peralatan darurat diperlukan dalam kondisi darurat. Oleh karena itu harus dapat diperoleh secara cepat dan mudah. Unsur kecepatan sangat penting, karena keterlambatan akan berisiko fatal bagi korban. Termasuk peralatan darurat misalnya alarm kebakaran, pemadam kebakaran, botol pencuci mata, pintu darurat, dan selimut kebakaran.


Limbah Laboratorium

Kebanyakan sekolah masih melakukan pembu-angan limbah laboratorium secara tradisional. Limbah cair langsung dibuang ke saluran pembuangan air. Cara-cara seperti ini dapat menimbulkan masalah baru, terutama apabila limbah yang dibuang itu adalah bahan-bahan beracun dan berbahaya.

Sebelum membuang limbah cair ke saluran air, perhatikan beberapa pertanyaan berikut: (a) apakah limbah itu beracun untuk tumbuhan dan hewan? (b) apakah pengencerannya sudah cukup? (c) apakah limbah itu dapat bercampur dengan air secara baik?

Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat dilakukan di dalam menangani masalah limbah laboratorium.


Bahan Kimia, Bahaya dan Penyimpanannya

Hal penting yang perlu diperhatikan agar semua pekerjaan di laboratorium berlangsung efisien dan aman adalah perencanaan ruangan penyimpanan yang tepat. Ruang penyimpanan harus memiliki ventilisasi dan pencahayaan yang cukup. Ruang penyimpanan harus bersih dan zat-zat kimia yang tidak cocok satu sama lain tidak boleh disimpan bersamaan. Kebersihan dan keteraturan ini harus dipelihara secara terus menerus.

Botol-botol zat yang pernah dibuka harus selalu dicek, apakah tutupnya cukup rapat, karena zat kimia yang menguap dapat merusak zat kimia yang lain atau bahanbahan lain di dalam laboratorium, terutama peralatan dari logam. Zat kimia yang sudah pernah dibuka juga harus selalu dicek kualitasnya, apakah masih baik atau sudah rusak karena berlalunya waktu. Zat-zat kimia yang telah rusak tidak perlu disimpan lagi dan perlu dimusnahkan dengan cara yang tepat. Coba perhatikan Gambar 5.19(a) dan (b), manakah dari kedua gambar itu yang menunjukkan cara penyimpanan zat kimia yang baik?

Pemberian Label


Hal yang juga amat penting dalam rangka melakukan penyimpanan dan penanganan zat kimia secara aman, yaitu dengan jalan memberikan label yang tepat pada wadah zat kimia yang bersangkutan, seperti contoh di samping. Ketika baru diterima dari pabrik, zat kimia tertentu telah dilengkapi dengan label yang sesuai. Sementara itu wadah yang berisi zat kimia di laboratorium sekolah seringkali lupa dilabeli. Prosedur dan cara yang telah ditetapkan harus diikuti. Bila label yang diperoleh dari pabrik belum cukup, perlu disertakan label tambahan yang berisi informasi bagi siswa.

Patut dicatat bahwa semua wadah zat kimia baik yang akan disimpan ataupun yang akan dibuang, harus diberi label yang sesuai. Zat kimia yang tidak berlabel harus dihilangkan demi keamanan.

Bahaya Listrik


Listrik digunakan baik di rumah maupun di sekolah. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui bahaya listrik dan cara mengatasinya secara aman. Uraian di bawah ini perlu diperhatikan untuk menghindari bahaya listrik. Semua kesalahan dan kerusakan listrik harus dilaporkan kepada guru. Semua sambungan kabel listrik harus diisolasi dengan baik . Jika terjadi kasus kecelakaan,

semua aliran listrik harus dimatikan. Perbaikan listrik termasuk penggantian sekering seharusnya dilakukan oleh ahlinya.

Beberapa aturan umum sebagai berikut. 1. Eksperimen di SMP yang menggunakan listrik dianjurkan menggunakan listrik dari baterai, bila menggunakan listrik PLN harus diperiksa oleh guru. 2. Sebelum alat-alat listrik distel atau disimpan, harus dimatikan terlebih dahulu. Jika mungkin cabutlah kabelnya dari sumber arus. 3. Jangan sampai ada sumber air atau karet yang basah yang berhubungan dengan sumber istrik. 4. Jangan menumpuk sambungan listrik menggunakan steker “T” misalnya. Gunakan satu lubang untuk satu sambungan. 5. Jangan menyentuh peralatan listrik dengan benda atau tangan yang basah. 6. Saklar terbuka jangan digunakan pada tegangan di atas 12 volt. 7. Sebelum menyambung suatu peralatan dengan alat listrik, matikan terlebih dahulu alat tersebut. 8. Dalam hal terjadi shock karena sengatan listrik, setiap orang harus mengetahui pertolongan pertama apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Uraian rinci lihat pertolongan pertama pada kecelakaan.

Mencegah Kebakaran Kebakaran dapat terjadi di dalam laboratorium melalui berbagai cara. Secara umum kebakaran terjadi bila tiga elemen terjadi pada saat bersamaan, yaitu: Bila terjadi kebakaran, kebakaran itu harus dipadamkan dengan cara yang benar . Bila cara yang digunakan salah, justru kebakaran menjadi bertambah besar atau menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Berikut ini beberapa metode menolong dan memadamkan kebakaran.

1. Bila seseorang, pakaiannya terbakar. Bila keadaan seperti ini terjadi, orang tersebut harus berguling-guling di atas lantai. Cara ini akan membantu mencegah api menyebar ke bagian lain dari pakaiannya. Selimut yang basah juga dapat digunakan dan ditutupkan ke atas tubuh korban yang terbakar. Jangan menggunakan alat pemadam kebakaran semprot ke tubuh orang tersebut. Bila api telah padam, amati apakah ada tanda-tanda shock pada korban. 2. Kebakaran bahan-bahan sehari-hari seperti kertas, kain, dan kayu. Untuk memadamkan kebakaran ini, air dapat digunakan. Air mampu menurunkan temperatur bahan yang terbakar. Alat pemadam kebakaran air ada dua macam, pertama air dalam tabung yang ditekan menggunakan karbon dioksida, dan kedua semprotan air langsung dari kran. Kedua macam alat pemadam kebakaran ini dapat digunakan. 3. Kebakaran pada cairan yang mudah terbakar. Kebakaran jenis ini tidak dapat dipadamkan dengan menggunakan air, melainkan menggu-nakan serbuk kering misalnya pasir. 4. Kebakaran di tempat terbuka. Pemadam kebakaran CO2 sangat cocok digunakan untuk kebakaran di tempat terbuka, karena alat ini bekerja untuk menghambat oksigen.


Alat pemadam kebakaran harus tersedia di laboratorium dan diletakkan pada posisi yang mudah dilihat dan mudah dijangkau. Beberapa hal yang harus dilakukan bila terjadi kebakaran: 1. Bunyikan alarm. 2. Keluarlah menuju tempat yang aman 3. Panggil pemadam kebakaran 4. Matikan saluran utama listrik dan gas Berikut ini adalah rangkuman mengenai jenis kebakaran dan alat pemadamnya yang cocok.

Beri Penilaian

Rating : 4.2/5 (10 votes cast)


Peralatan pribadi